Pages

Tuesday, May 10, 2011

Kisah: Melihat, Mendengar, Merasakan

SMA Part V

Kisah: Melihat, Mendengar, Merasakan

Punya temen sekelas yang lain punya hobi mencuri atau ngutil di supermarket. Sebut saja Si Ir. Sangat lihai dalam ketrampilan tangan mencuri. Pernah suatu ketika kami beli rokok di warung, alhasil temenku ini bisa-bisanya curi telor asin tanpa sepengetahuanku. Cepat sekali aksinya dan tidak terlihat, expresi wajahnya juga flat alias tidak mencurigakan. Tahu-tahu si Ir bilang: “Nih tak kasih telor asin, gratis dari warung tadi.” Biasanya setelah melakukan aksi ngutil, barang-barang hasil kejahatannya dibawa ke sekolah untuk diobral dengan setengah harga. Minyak wangi, lampu bolam, semir sepatu dan juga celana jeans pernah aku beli dari dirinya. Kalo si Ir main kerumahku, aku bilang: ”Kalau ada sesuatu dikamarku yang hilang, yang aku tuduh pertama kali adalah kamu.” Kemudian si Ir jawab: “Aku gak nyuri kalo sama temen sendiri.” Selama kami berteman, barangku aman-aman saja, rupanya si Ir menepati janjinya.

Sebenarnya dia ini anak yang pintar, karena dulu sewaktu masuk di SMU dia tergolong siswa dengan NEM yang tinggi. Bisa dibilang keluarganya broken home, saya berani menuliskan seperti ini karena telah menyaksikannya sendiri. Dia cerita kalo selama ini diasuh oleh kakeknya (dari bapak), sejak masih bayi bapak-ibunya sudah pisah. Adek kandungnya cewek, ikut Ibunya. Kemudian ibunya nikah lagi dan tinggal di Jakarta, sedangkan ayahnya tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah. Suatu ketika dia ingin ketemu ibunya dan juga adek kandungnya. Ir menunjukkan sepucuk surat kepadaku yang dikirim oleh ibunya. Inti dari surat itu menyebutkan kalo Ibunya Ir kangen dan kalo Ir ada waktu disuruh main ke Jakarta. Akhirnya si Ir membujukku untuk menemaninya pergi ke Jakarta. Si Ir bilang: “Tiket naik kereta pergi-pulang aku yang bayarin.” Setelah ada libur, kami pun berangkat ke Jakarta. Sebenarnya pergi ke Jakarta bukan hal baru bagi saya, karena banyak sodara yang tinggal di Jakarta dan saya sering mengunjunginya. Kami berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta sore hari, beli tiket kereta ekonomi yang berangkat dari Surabaya. Yak… ampuuun, penuhnya amit-amit. Setelah berdesak-desakan akhirnya kami bisa masuk juga ke gerbong. Murah sih tiketnya, sekitar Rp. 14.000,-. Tiket dijual tanpa tempat duduk, karena kereta ekonomi tersebut berangkat dari Surabaya, pasti tempat duduk telah terisi penuh. Kami pun duduk di koridor kereta bersama penumpang yang lain, penuh sesak, bergerak pun susah. Saya juga baru kali ini naik kereta kelas ekonomi dengan kondisi yang parah seperti ini. Ketika saya kebelet pipis, pergi ke kamar mandi, gelap gulita tak ada lampunya. Wow… ternyata ada orang yang tidur di kamar mandi tersebut. Untunglah saya belum buka celana, orang yang didalam keburu teriak. Dengan aroma menyengat seperti itu, koq ada yang bisa tidur didalamnya. Puh… akhirnya kutahan hasrat pengen pipisku. Akhirnya berhenti di salah satu stasiun, tahu sendirilah kalo kereta ekonomi banyak berhentinya apalagi kalo berpapasan dengan kereta lain. Saat berhenti itulah saya keluar kereta dan kencing. Hrrrgh…. Lega rasanya. Jadual tiba di Jakarta jam 5 pagi, tapi kenyataannya kami tiba pukul 9 pagi. Ingat lagunya Iwan Fals: …. biasanya kereta terlambat 2 jam, itu biasa….

Akhirnya kami pun tiba di Jakarta dengan selamat tapi jauh dari kenyamanan. Muka penuh minyak dan bau apek. Si Ir buka suratnya lagi, dan cari telepon umum koin untuk memberi tahu kalo dirinya sudah tiba di stasiun dan ibunya akan menjemput. Mungkin karena si Ir masih canggung, akhirnya aku yang disuruh telepon ke ibunya (aku lupa nama ibunya si Ir). Yaa udah aku telepon dan kasih kabar kalo kami berdua sudah tiba di stasiun. Ibunya Ir nyuruh kami menunggunya di depan pintu masuk stasiun kira-kira setengah jam lagi sampai. Sebatang rokok pun aku nyalakan sambil menunggu ibunya Ir. Kulihat si Ir gelisah, cara merokoknya pun tidak seperti biasanya. Rasa tegang, cemas dan panik tampak tegas diguratan wajah Ir. Aku berusaha memakluminya, karena si Ir sejak bayi sudah terpisah dari kedua orang tuanya dan baru pada hari itu akan bertemu kembali. Waktu kutanya: “Ir… kamu inget wajah ibumu?” Dia pun singkat menjawab: “Tidak.” Bayangkan, Jakarta kota metropolitan banyak sekali manusia lalu lalang, apalagi di stasiun yang tempat umum, gimana cara mengetahui ibunya Ir yah?? Itulah pertanyaan yang terlintas dibenakku tapi tidak kusampaikan ke Ir. Saat itu belum ada handphone, alat komunikasi cuman telepon umum.

Setengah jam pun berlalu, si Ir tambah tidak tenang dia selalu tengak-tengok kiri kanan, mengawasi setiap orang yang melintas. Akhirnya…. Si Ir berkata: “Yud, kayaknya itu ibuku.” Aku pun melihat ke arah yang ditunjuk si Ir: “Gimana kamu tau itu Ibumu?”. Jawab Ir: “Lihat foto ini, dia mirip sekali dengan foto ini.” Aku memperhatikan seorang ibu dengan menggandeng seorang anak laki-laki dan sedang kelihatan mencari sesuatu: “Loh Ir, katanya adekmu cewek?” Si Ir menyahut: “Iya.. adek kandungku cewek, tapi dia itu mirip sekali dengan foto disini.” Akhirnya kuambil foto dari tangan Ir, kuperhatikan memang ada kemiripannya seh. Yaa udahlah demi seorang teman, akhirnya aku menghampiri ibu tersebut dan si Ir berjalan dibelakangku. “Bu… ibu ini ibunya Ir yah?” tanyaku langsung. “Iyaa…. Eh, kamu Ir yah?” Aku pun balas menjawab: “Bukan Bu, ini si Ir.” Sambil kusodorkan tubuh Ir kehadapan ibunya. Mereka pun saling tatap sejenak terus berpelukan dan saling menangis. Ouuugh…. Aku pun ikutan terharu dan trenyuh menyaksikan peristiwa ini. Setelah beberapa saat, ibunya Ir, mengenalkan anak kecil yang digandengnya itu adalah adik tirinya Ir. Terus gentian Ir mengenalkan aku kepada ibunya. “Yaa udah yuk, kita ke rumah.” Kata ibunya Ir kepada kami. Kemudian kami pun berjalan keluar dan komplek stasiun dan mencari bajaj menuju daerah Manggarai Jakarta Selatan.

Selama di dalam bajaj antara Ir dan Ibunya saling diam, mungkin si Ir bingung mau cerita apa. Akhirnya aku nyeletuk untuk lepas dari kebuntuan: “Bu… udah lama yah gak ketemu Ir.” Ibunya Ir angkat bicara penuh semangat, “Iyaa udah luuaama banget, sejak dia orok, baru sekarang ketemu lagi. Ir udah gedhe sekarang.” Selama perjalanan ibunya Ir cerita kalo sama suaminya yang sekarang punya 3 anak. Cowok semua, yang ikut bersama kami anak bungsunya. Adek kandungnya Ir yang cewek nunggu dirumah. Ibunya Ir bilang: “Eh nanti kalian, tidurnya ditempat bibi yah, soalnya rumahnya Ibu kecil takut gak muat. Tapi rumah bibi sama rumah ibu berdekatan kok. Jadi kalo ada apa-apa gampang” Aku jawab: “Iyaa deh bu… santai aja.” Akhirnya kami pun sampai juga di wilayah Manggarai, saya cukup hafal daerah sini, karena pamanku juga tinggal disekitar sini. Sampai disebuah rumah, kami pun disambut oleh penghuni rumah tersebut: “Hey… hallo apa kabar…” Selanjutnya kami pun dikenalin satu per satu penghuni rumah tersebut. Maklum… si Ir baru pertama kalinya berkunjung jadi belum tahu mana saja kerabat dekatnya.

Aku dipaksa Ir untuk menginap disitu, padahal aku bilang sama Ir, kalo rumah sodaraku didekat sini juga. Pikirku lebih baek kalo aku menginap dirumah sodaraku, kalo seandainya Ir mau kangen-kangenan bersama sodara-sodaranya. Tetapi Ir tetap memaksaku, mungkin Ir juga masih merasa asing disitu. Tak lama kemudian Ibunya Ir datang lagi kali ini bersama adek kandungnya Ir dan suaminya. Kami dikenalin semuanya dan saling ngobrol-ngobrol. Kulihat adekknya Ir maseh malu-malu untuk menyapa duluan, si Ir pun terlihat kaku dan salah tingkah. Baiklah… aku pun ikut menginap dirumah bibinya Ir. Kemudian hari berikutnya, aku bilang ama bibinya Ir, kalo aku mau tidur ditempat sodaraku. Aku cerita kalo sodaraku tinggal di daerah sini juga, cuman berjarak beberapa ratus meter saja. Bibinya Ir, heran ternyata aku cukup kenal daerah daerah sini. Aku pun ambil ransel dan jalan kaki menuju rumah sodaraku. Sebelum pergi aku pesen sama Ir, besok kalo mau pulang ke Jogja janjian.

Pencet bell dirumah pamanku, mereka pada kaget. Soalnya baru hari itu aku muncul, ternyata ibuku sudah telepon pamanku kalo aku mau maen ke Jakarta, dan pamanku pikir aku kemarin sudah sampai dan mungkin aku kesasar. “Oalaah le… kok ora telepon nek kowe nginep nggone kancamu.” Aku pun bercerita panjang lebar….

Selang beberapa hari si Ir maen ketempat pamanku, karena sebelumnya dia sudah tak kaseh peta rumahnya pamanku. Akhirnya kami sepakat untuk pulang bersama dan tiket sudah dipesenin sama ibunya Ir. Kali ini kami pulang menggunakan kereta bisnis, jauh lebih nyaman. Sepanjang perjalanan Ir cerita, bapak tirinya baek meski dia seorang preman. Ir dikasih uang juga dan beberapa potong baju.

Singkat cerita temenku si Ir yang hobi ngutil ini tidak naik kelas, dan kami hilang kontak dan Ir sendiri hilang dari peredaran gak tau entah dimana rimbanya. Pernah aku maen kerumahnya yang di Jogja, sodaranya bilang, Ir sudah lama pergi, mereka juga gak tau kemana perginya.



|| Sobat…. Aku percaya bahwa semua manusia bisa berubah, meski itu bukan perkara yang mudah. Semoga kita bisa berubah ke arah yang lebih baek. ||







No comments: