Pages

Monday, May 02, 2011

Diambang Ajal

Tahap Sekolah Dasar – Part V – Diambang Ajal

Ada pengalaman yang rasanya gak pernah saya lupa. Saya pernah nyaris mati tenggelam sewaktu saya masih SD. Saat itu kami lagi seneng-senengnya renang, dengan biaya Rp. 100,- bisa nyemplung di kolam selama 1 jam dengan kedalaman 1 meter yang fasilitasnya jauh diluar standard swimming pool. Apesnya bisa kena panu, kutu air atau kadas. Bisa sewa ban, kalo tidak salah Rp 50,-. Senangnya pada masa itu bareng-bareng habis pulang sekolah naik sepeda, cari tebu di Madukismo, terus sorenya renang. Ada beberapa tempat kolam renang di sekitar pemukiman kami. Ada juga sebuah hotel di dekat rumah, yang menyediakan kolam renangnya untuk umum. Tarif renang di hotel tersebut sedikit lebih mahal, pada saat itu biayanya Rp 350,- sepuasnya tanpa batasan waktu. Suatu hari, saya dan juga 2 teman ingin berenang di hotel tersebut (salah satunya sohib saya si Albert). Tapi pada akhirnya ke dua teman saya tidak jadi berenang. Yaa udah akhirnya saya sendiri yang berenang, kedua teman saya hanya duduk-duduk dipinggir kolam. Pertama saya hanya mainan air di kolam yang kedalaman 50 cm. Saat itu ada juga 1 orang anak laki-laki yang juga berenang dan saya tidak mengenalnya. Dia sudah jago berenang, dan main main di kedalaman yang 1,5 meter. Seukuran anak SD kedalaman 1,5 meter sudah cukup untuk membenamkan seluruh anggota tubuh. Anak laki-laki tersebut ditungguin oleh ayahnya, yang duduk mengawasinya dipinggir kolam.

Saya tidak bisa berenang, tetapi saya ingin main plorotan yang berada di kedalaman 1,5 meter. Akhirnya saya nekad bermain plorotan, dengan dibantu si Albert yang selalu melemparkan ban tepat di bawah plorotan, supaya saya bisa meraihnya. Satu…. Dua… kali saya berhasil meraih ban itu dengan sukses. Bermodal nekad dan keinginan belajar renang, akhirnya lemparan ban semakin dijauhkan dari plorotan. Dan… akhirnya saya tidak bisa meraih ban tersebut. Saya sudah minum banyak air, saya teringat anak laki-laki yang tidak saya kenal tadi membantu saya menarik ke pinggir kolam tetapi tidak kuat. Saya mencoba berteriak minta tolong, tapi setiap kali saya buka mulut, air masuk sampai ke tenggorakan. Saya sudah diambang ajal dan merasakan gelap, tidak bisa melihat apa apa lagi. Tiba-tiba saya digendong oleh bapak dari si anak laki-laki yang berenang di kolam tersebut. Bapak itu tadinya duduk-duduk dipinggir kolam dan menyelamatkan saya yang masih berpakain lengkap. Dan saya direbahkan dipinggir kolam, tubuh saya lunglai, lemas dan sesekali masih tersedak oleh air. Bapak itu terus berkata: “Mas, besok lagi kalo belum bisa berenang hati-hati, harus ada yang mengawasi.” Memang kolam renang di hotel tersebut disewakan untuk umum tapi tanpa pengawas, Si Albert menceritakan kepada saya: “Dari atas kolam, kamu cuman kelihatan rambutmu tergerai dan terapung apung di kolam.” Kemudian saya bilang terima kasih kepada bapak itu dan kami bertiga pulang ke rumah. Pada saat saya tenggelam, saya membawa sebuah kalung pinjaman dari teman sekelas, dan kalung itu hilang. Pagi harinya ketika sekolah, saya kaget karena berita saya tenggelam sudah diketahui oleh teman teman sekelas, si Albert dan temen saya yang ikut menyaksikan saya tenggelam telah bercerita kepada teman teman. Kemudian saya cari teman yang kalungnya saya pinjam, terus saya bilang, kalo kalungnya hilang sewaktu saya tenggelam, dia bilang: “Ya udah gak pa pa”



|| Makaseh wahai Sang Kausa Prima…. Engkau masih memberikan kesempatan dan kepercayaan saya untuk hidup yang lebih lama di bumi ini. ||


No comments: