SMP Part I
Awal Putih Biru – (edisi revisi)
Yaa itulah warna seragam ketika duduk dibangku S.M.P (Sekolah Menengah Pertama). Sebelum masuk di era putih biru terdapat masa transisi….
Setelah kelulusan SD dan sebelum masuk SMP saya di sunat (itu tuh… ujungnya Mr. P dipenggal sedikit) Nah… pada saat sunatan ini, biasaya diadakan hajatan. Hasil uang sumbangan dari hajat sunatan inilah saya gunakan untuk membeli sepeda baru berjenis Federal.
Untuk melanjutkan studi di jenjang SMP, kita harus memiliki NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang cukup untuk mendaftar di sekolah yang kita inginkan. Setiap sekolah akan menerima siswa baru, berdasarkan ranking NEM dan daya tampung yang dimiliki. Jika NEM kita mencukupi maka kita bisa masuk di SMP tersebut, jika NEM tidak mencukupi ada 2 kemungkinan yaitu bisa dilempar ke SMP lain dalam satu rayon atau bisa juga tidak diterima di SMP tersebut. Dan kita mesti mencari sekolahan lain (sekolah swasta) yang pendaftarannya biasanya lebih lama dibanding dengan sekolah negeri. Semua sekolah negeri waktu pendaftarannya adalah sama, jadi kita tidak bisa melakukan pendafataran di sekolah negeri lebih dari 1 sekolahan, karena salah satu syaratnya kita mesti menyertakan NEM aseli. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai membaca situasi dalam melakukan pendaftaran. Yaa begitulah kurang lebihnya. NEM saya lulus SD yaitu 40,28 yang terdiri dari 5 mata pelajaran.
Yang mesti kita lakukan pertama kali yaitu membeli formulir pendaftaran. Pada hari itu, saya bersama 2 teman (Ferry dan Riko) dengan bersepeda mengunjungi beberapa SMP untuk membeli formulir pendaftaran. Tentunya saya menaiki sepeda Federal baru, Saya hanya diberi uang oleh Ibu, kemudian saya jalan sendiri (tanpa diantar orang tua) merapat untuk beli formulir. Waktu itu kami bertiga udah janjian untuk bareng-bareng bersepeda. Saat-saat itu ibu saya sibuk menjahit, sedangkan ibunya si Ferry sibuk jualan gudeg. Si Riko pengen gabung dengan kami.
Kami bertiga mempunyai NEM yang berbeda, dan SMP yang kami inginkan berbeda pula. Berdasar informasi di Koran mengenai NEM terendah tahun lalu di beberapa SMP Negeri kami pun berangkat. Saya tidak ingat berapa sekolahan yang saya kunjungi hari itu, pokoknya saya beli 2 formulir di rayon yang berbeda. Setelah beli formulir kami pulang dan tidak mengumpul formulir pada hari tersebut, karena kami harus melengkapi persyaratan. Sampai rumah yang bilang ke Ibu kalau saya beli 2 formulir di rayon yang berbeda. Pesan ibu: “Kalo bisa kamu diterima di SMP Negeri yang bayarnya murah.” Pada masa itu ekonomi kami pas-pasan dan jika dibandingkan biaya pendidikan SMP Negeri jauh lebih murah dengan SMP Swasta.
Pada masa-masa inilah saya dilatih oleh orang tua untuk berani ambil keputusan. Saya harus mampu memilih SMP mana yang kira-kira bisa menerima saya dan sesuai dengan kemampuan financial orang tua. Hari berikutnya saya mengumpulkan formulir (sendirian naik sepeda) di SMP Negeri 2 Yogyakarta Jalan P. Senopati yang berlokasi dibelakang taman kota (taman kota tersebut sekarang sudah tiada). Teman-teman saya masih menunggu hari terakhir, karena masih memantau perkembangan daftar NEM terendah di beberapa sekolahan.
Hari pengumuman pun tiba… akhirnya saya diterima menjadi siswa SMP Negeri 2 Yogyakarta dengan nomor indruk 11900. Pengalaman baru pun dimulai, dapat teman baru yang lebih banyak, karena tiap kelas berisi 40 siswa dan ada 6 kelas pararel. Saya masuk di kelas 1D, ada juga beberapa teman di SD yang juga masuk di SMP Negeri 2 Yogyakarta tapi kami berbeda kelas.
[…]
Wednesday, May 04, 2011
Subscribe to:
Post Comments (RSS)
No comments:
Post a Comment