Pages

Saturday, May 14, 2011

Euphoria Lulus SMU

SMA Part IX

Euphoria Lulus SMU

Pada tahun ke 3 saatnya penjurusan, aku dikotakkan kedalam rumpun sosial. Ada 5 kelas waktu itu dan dibagi sebagai berikut: kelas IPA ada 2 kelas, dan kelas IPS ada 3 kelas. Aku masuk di kelas 3 Sosial 1 dan disini kita diacak, jadi tambah temen lagi. Tapi….. ada yang gak baru, yaitu aku sekelas lagi dengan si X, yang pernah aku ceritakan di artikel Romantika Disuka Wanita. Yaa, mungkin sudah nasib.

Selama 3 tahun aku digembleng, dengan berbagai kejadian akhirnya LULUS juga. Sebuah euphoria dengan melakukan aksi corat-coret di baju seragam yang telah digunakan selama 3 tahun tersebut. Berbagai tanda tangan dan cat spray warna-warni telah menghiasi baju seragamku.

Yaa… pokoknya begitulah, yang penting aku lulus.



[…]


Friday, May 13, 2011

Kesuksesan??? Menyontek

SMA Part VIII

Kesuksesan??? Menyontek

Setelah anda baca beberapa tulisanku sebelumnya, apa anda percaya kalo dulu pas ujian Fisika, satu sekolahan yang terdiri dari 5 kelas pararel (sekitar 200-an siswa) hanya ada 6 siswa yang lolos dan saya termasuk diantara 6 siswa tersebut.? Dulu… setiap kali ujian selesai, jika ada siswa yang nilainya dibawah standard maka diwajibkan mengikuti ujian ulang. Nama-nama siswa yang wajib mengikuti ujian ulang biasanya dipasang dipapan pengumuman sehari setelah ujian selesai. Jadi… setiap siswa selalu cek dan jaga-jaga kalo harus mengikuti ujian ulang. Jadual, waktu dan tempat ujian ulang biasanya juga ditempel dipapan pengumuman tersebut.

Waktu itu, saya berangkat agak siang…. Karena setelah ujian selesai tidak ada aktivitas belajar mengajar. Kegiatan setelah ujian, biasanya class meeting dengan berbagai perlombaan olah raga. Tapi mau gak mau kita mesti berangkat ke sekolah, untuk tengok kalo-kalo ikut ujian ulang. Setelah parkir motor, aku pun menuju kelas…. Wuiiih dikelas sudah heboh. “Hoi…. Truk, kok bisa seh kamu gak ikutan ujian ulang Fisika, kamu gak solid ama temen.” Tanya salah satu temenku. “Yaa…. Aku kan orang sakti.” Jawabku singkat, karena kupikir temenku bercanda. Aku lantas beranjak menuju papan pengumuman, disana maseh banyak siswa yang berjubal liatin pengumuman. Aku pun menerobos masuk kedalam kerumunan…. Aku lihat dengan teliti, mata pelajaran kimia beserta daftar siswa yang mengikuti ujian ulang dan lumayan banyak nama yang tercantum didalamnya. Asyiik…. Namaku gak ada. Terus… mata pelajaran matematika, cihuiiiii…. Namaku juga gak disebutkan disitu. Selanjutnya cek mata pelajaran Fisika, hwaduuuh…. Nama lengkapku tercantum dengan jelas disitu. Bayangkan aja… udah selesai ujian yang bisa dipake buat refreshing, mesti belajar extra demi mempersiapkan ujian ulang. “Buaajinguk…. Namaku ada didaftar Fisika.” teriakku spontan. Kemudian ada salah satu temen disampingku, berkata: ”Cek tulisan diatas, Daftar Siswa Yang TIDAK Mengikuti Ujian Ulang Fisika. Berarti kamu lolos.” Aku buka mataku lebar-lebar…. Dan cek sekali lagi dengan teliti. Oh…iya… ternyata pengumuman itu, nama-nama siswa yang tidak mengikuti ujian ulang. Mungkin saking banyaknya yang mengikuti ujian ulang Fisika, jadi yang disebutkan bagi yang lolos aja. Hahaha…. Aku tersenyum bahagia. Lari… bergegas ke kelas, dan berpapasan dengan beberapa temen. “Truk… mata pelajaran apa aja yang udah dipasang?” Aku balas: ”Cek aja sendiri.” Sampai kelas kulihat, banyak temenku yang kutu buku sudah mulai belajar, pinjem buku di perpustakaan, mengerjakan soal dari tahun kemarin, pencat-pencet kalkulator, dsb. Aku ambil tas dan berkata kepada temen-temen: ”Sorry yah… aku gak ikut ujian ulang. Malem ini aku bisa tidur pules. Hahaha….” Terus temenku pada kompak: “Huuuuuuuu………..”

Kemudian aku start motorku, cabut pulang ke rumah. Pengen tau, kenapa aku bisa lolos dari mata pelajaran yang menyeramkan? Yaa memang aku ahli dibidangnya. Hehehe….

Sebenarnya aku lolos dari ujian ulang karena teman yang duduk sebelahku lolos juga. Jadi aku nyonteknya SUKSES, tinggal injak kakinya, melototin mata dikasih deh lembar jawabanya dia.

[…]


Wednesday, May 11, 2011

Traveling Yang Garing

SMA Part VI

Traveling Yang Garing

Semasa dibangku SMU saya mempunyai paraban atau julukan bernama PETRUK. Nama Petruk merupakan tokoh pewayangan punokawan. Banyak teman-teman di SMU yang mempunyai nama alias dan sehari-hari kami memanggilnya dengan nama alias tersebut antara lain: ableh, tile, kimpul, suwunk, si ong, acin, goeng, pepenk, bagong, genjik, kebo, dekok, lemes, sunthi etc.

“Truk, kamu punya SIM C toh..?” Tanya temenku si Pepenk. “Punyalah. Ada apa? Mau pinjem buat rental VCD?” Kubalas pertanyaannya. Terus si Pepenk berkata lagi: “Nggak…. Kalo kamu ada SIM, besok ikutan aku ke Subang Jawa Barat ambil motorku?” Aku kaget: ”Haa…. Serius? Yaa… udah kapan?”

Si Pepenk ini temenku sekelas, dia aselinya dari Subang Jawa Barat dan selama sekolah di Jogja tinggal bersama budhenya. Waktu itu si Pepenk mau dibelikan motor oleh orang tuanya dari Subang. Si Pepenk udah kebelet naik motor dan segera ingin memboyong motornya ke Jogja, karena selama ini Pepenk ke sekolah naik sepeda.

Gayung bersambut… aku yang juga suka traveling mendukung idenya. Si Pepenk punya rencana kalo berangkat ke Subang naik bus. Tapi aku puny ide lain: ”Mending naik kereta aja, turun di Bandung, trus kita maen bentar, baru ke rumahmu.” Waktu itu aku pikir dari Bandung ke Subang jaraknya dekat dan transport mudah kan sama-sama wilayah Jawa Barat. Dan…. Ternyata feeling-ku tidak tepat. Hiiihiii…..

Akhirnya si Pepenk setuju dengan saranku. Setelah ada hari yang cocok, kami pun berangkat ke Bandung naik kereta. “Penk…. dari Bandung ke rumahmu, brapa lama.” Pepenk jawab: “Kalo lancar, 3-4 jam, kalo bus sering ngetem bisa lebih lama.” Busyeet…. Jauh juga nih, aku Tanya lagi: ”Kamu tau daerah Bandung toh?” Balas si Pepenk singkat: ”Nggak.” Hahaha…… calon gelandangan nih pikirku, uang saku juga pas-pasan. Mau gimana lagi, posisi udah di atas kereta, yaa udah terlanjur basah, basar aja sekalian. Selama perjalanan berjam-jam kita cuman berteman rokok.

Kita pun sampai di Bandung dengan selamat, setelah meregangkan otot-otot yang kaku, akhirnya ambil tas ransel dan menikmati udara Bandung. Hm….. adem, lebih adem dari Jogja. “Truk… Ayo buruan, kita mesti cari angkutan ke arah Subang, ini udah sore. Kalo telat kita gak dapat bus.” Waks…. Batal deh angan-anganku bertamasya di Kota Kembang untuk berjumpa dengan geulis Bandung. Aku pun tanpa banyak tele-tele mengikuti saran si Pepenk. Bener juga… rupanya si Pepenk gak kenal daerah Bandung, kita mesti rajin bertanya-tanya. Puh…. Selamat karena dapat bus juga yang bertujuan ke Subang. Aku merasa lama banget perjalanannya, dan untuk menuju rumahnya Pepenk mesti berjalan kaki pula. Cuapeknya…..

Sampai rumahnya Pepenk aku berbasa-basi dikit ama orang tuanya, kemudian mandi dan langsung tidur pules. Keesokan harinya, setelah sarapan si Pepenk cerita kalo motornya ternyata belum ada dirumah, maseh dirumah kerabatnya. “Yaa… udah ditunggu aja motornya, kapan mau dianter ke sini?” Si Pepenk jawab:”Itu dia aku gak tau kapan mau dianter kesini.” Yaa udah, kita menghabiskan hari disekitar rumah Pepenk karena gak ada alat transportasi selain jalan kaki. Kami pun jalan-jalan di ibukota Kecamatan, aku merasa menjadi asing, pokoknya rasanya aneh.

Berita terakhir dari orang tua si Pepenk, motornya blum bisa dikirim kerumah dalam waktu dekat ini. Gak tau alasannya, lagian menurutku orang tua Pepenk gak merestui dan takut kalo kami berdua mengendarai motor ke Jogja. Si Pepenk pun sepertinya sudah maksimal untuk merayu orang tuanya. Wuiiih…. Batal deh acara petualangan naek motor, aku udah bayangin bakalan seru. Hehehe…. Akhirnya kami pun memutuskan untuk segera balek Jogja, kali ini naik bus yang lebih simple. Woiii… Jogja I am come back. Meski tujuan utama kami tidak terwujud untuk memboyong motor dari Subang ke Jogja, tapi setidaknya || aku maseh memiliki teman yang mempercayaiku. ||



[…]







Tuesday, May 10, 2011

Kisah: Melihat, Mendengar, Merasakan

SMA Part V

Kisah: Melihat, Mendengar, Merasakan

Punya temen sekelas yang lain punya hobi mencuri atau ngutil di supermarket. Sebut saja Si Ir. Sangat lihai dalam ketrampilan tangan mencuri. Pernah suatu ketika kami beli rokok di warung, alhasil temenku ini bisa-bisanya curi telor asin tanpa sepengetahuanku. Cepat sekali aksinya dan tidak terlihat, expresi wajahnya juga flat alias tidak mencurigakan. Tahu-tahu si Ir bilang: “Nih tak kasih telor asin, gratis dari warung tadi.” Biasanya setelah melakukan aksi ngutil, barang-barang hasil kejahatannya dibawa ke sekolah untuk diobral dengan setengah harga. Minyak wangi, lampu bolam, semir sepatu dan juga celana jeans pernah aku beli dari dirinya. Kalo si Ir main kerumahku, aku bilang: ”Kalau ada sesuatu dikamarku yang hilang, yang aku tuduh pertama kali adalah kamu.” Kemudian si Ir jawab: “Aku gak nyuri kalo sama temen sendiri.” Selama kami berteman, barangku aman-aman saja, rupanya si Ir menepati janjinya.

Sebenarnya dia ini anak yang pintar, karena dulu sewaktu masuk di SMU dia tergolong siswa dengan NEM yang tinggi. Bisa dibilang keluarganya broken home, saya berani menuliskan seperti ini karena telah menyaksikannya sendiri. Dia cerita kalo selama ini diasuh oleh kakeknya (dari bapak), sejak masih bayi bapak-ibunya sudah pisah. Adek kandungnya cewek, ikut Ibunya. Kemudian ibunya nikah lagi dan tinggal di Jakarta, sedangkan ayahnya tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah. Suatu ketika dia ingin ketemu ibunya dan juga adek kandungnya. Ir menunjukkan sepucuk surat kepadaku yang dikirim oleh ibunya. Inti dari surat itu menyebutkan kalo Ibunya Ir kangen dan kalo Ir ada waktu disuruh main ke Jakarta. Akhirnya si Ir membujukku untuk menemaninya pergi ke Jakarta. Si Ir bilang: “Tiket naik kereta pergi-pulang aku yang bayarin.” Setelah ada libur, kami pun berangkat ke Jakarta. Sebenarnya pergi ke Jakarta bukan hal baru bagi saya, karena banyak sodara yang tinggal di Jakarta dan saya sering mengunjunginya. Kami berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta sore hari, beli tiket kereta ekonomi yang berangkat dari Surabaya. Yak… ampuuun, penuhnya amit-amit. Setelah berdesak-desakan akhirnya kami bisa masuk juga ke gerbong. Murah sih tiketnya, sekitar Rp. 14.000,-. Tiket dijual tanpa tempat duduk, karena kereta ekonomi tersebut berangkat dari Surabaya, pasti tempat duduk telah terisi penuh. Kami pun duduk di koridor kereta bersama penumpang yang lain, penuh sesak, bergerak pun susah. Saya juga baru kali ini naik kereta kelas ekonomi dengan kondisi yang parah seperti ini. Ketika saya kebelet pipis, pergi ke kamar mandi, gelap gulita tak ada lampunya. Wow… ternyata ada orang yang tidur di kamar mandi tersebut. Untunglah saya belum buka celana, orang yang didalam keburu teriak. Dengan aroma menyengat seperti itu, koq ada yang bisa tidur didalamnya. Puh… akhirnya kutahan hasrat pengen pipisku. Akhirnya berhenti di salah satu stasiun, tahu sendirilah kalo kereta ekonomi banyak berhentinya apalagi kalo berpapasan dengan kereta lain. Saat berhenti itulah saya keluar kereta dan kencing. Hrrrgh…. Lega rasanya. Jadual tiba di Jakarta jam 5 pagi, tapi kenyataannya kami tiba pukul 9 pagi. Ingat lagunya Iwan Fals: …. biasanya kereta terlambat 2 jam, itu biasa….

Akhirnya kami pun tiba di Jakarta dengan selamat tapi jauh dari kenyamanan. Muka penuh minyak dan bau apek. Si Ir buka suratnya lagi, dan cari telepon umum koin untuk memberi tahu kalo dirinya sudah tiba di stasiun dan ibunya akan menjemput. Mungkin karena si Ir masih canggung, akhirnya aku yang disuruh telepon ke ibunya (aku lupa nama ibunya si Ir). Yaa udah aku telepon dan kasih kabar kalo kami berdua sudah tiba di stasiun. Ibunya Ir nyuruh kami menunggunya di depan pintu masuk stasiun kira-kira setengah jam lagi sampai. Sebatang rokok pun aku nyalakan sambil menunggu ibunya Ir. Kulihat si Ir gelisah, cara merokoknya pun tidak seperti biasanya. Rasa tegang, cemas dan panik tampak tegas diguratan wajah Ir. Aku berusaha memakluminya, karena si Ir sejak bayi sudah terpisah dari kedua orang tuanya dan baru pada hari itu akan bertemu kembali. Waktu kutanya: “Ir… kamu inget wajah ibumu?” Dia pun singkat menjawab: “Tidak.” Bayangkan, Jakarta kota metropolitan banyak sekali manusia lalu lalang, apalagi di stasiun yang tempat umum, gimana cara mengetahui ibunya Ir yah?? Itulah pertanyaan yang terlintas dibenakku tapi tidak kusampaikan ke Ir. Saat itu belum ada handphone, alat komunikasi cuman telepon umum.

Setengah jam pun berlalu, si Ir tambah tidak tenang dia selalu tengak-tengok kiri kanan, mengawasi setiap orang yang melintas. Akhirnya…. Si Ir berkata: “Yud, kayaknya itu ibuku.” Aku pun melihat ke arah yang ditunjuk si Ir: “Gimana kamu tau itu Ibumu?”. Jawab Ir: “Lihat foto ini, dia mirip sekali dengan foto ini.” Aku memperhatikan seorang ibu dengan menggandeng seorang anak laki-laki dan sedang kelihatan mencari sesuatu: “Loh Ir, katanya adekmu cewek?” Si Ir menyahut: “Iya.. adek kandungku cewek, tapi dia itu mirip sekali dengan foto disini.” Akhirnya kuambil foto dari tangan Ir, kuperhatikan memang ada kemiripannya seh. Yaa udahlah demi seorang teman, akhirnya aku menghampiri ibu tersebut dan si Ir berjalan dibelakangku. “Bu… ibu ini ibunya Ir yah?” tanyaku langsung. “Iyaa…. Eh, kamu Ir yah?” Aku pun balas menjawab: “Bukan Bu, ini si Ir.” Sambil kusodorkan tubuh Ir kehadapan ibunya. Mereka pun saling tatap sejenak terus berpelukan dan saling menangis. Ouuugh…. Aku pun ikutan terharu dan trenyuh menyaksikan peristiwa ini. Setelah beberapa saat, ibunya Ir, mengenalkan anak kecil yang digandengnya itu adalah adik tirinya Ir. Terus gentian Ir mengenalkan aku kepada ibunya. “Yaa udah yuk, kita ke rumah.” Kata ibunya Ir kepada kami. Kemudian kami pun berjalan keluar dan komplek stasiun dan mencari bajaj menuju daerah Manggarai Jakarta Selatan.

Selama di dalam bajaj antara Ir dan Ibunya saling diam, mungkin si Ir bingung mau cerita apa. Akhirnya aku nyeletuk untuk lepas dari kebuntuan: “Bu… udah lama yah gak ketemu Ir.” Ibunya Ir angkat bicara penuh semangat, “Iyaa udah luuaama banget, sejak dia orok, baru sekarang ketemu lagi. Ir udah gedhe sekarang.” Selama perjalanan ibunya Ir cerita kalo sama suaminya yang sekarang punya 3 anak. Cowok semua, yang ikut bersama kami anak bungsunya. Adek kandungnya Ir yang cewek nunggu dirumah. Ibunya Ir bilang: “Eh nanti kalian, tidurnya ditempat bibi yah, soalnya rumahnya Ibu kecil takut gak muat. Tapi rumah bibi sama rumah ibu berdekatan kok. Jadi kalo ada apa-apa gampang” Aku jawab: “Iyaa deh bu… santai aja.” Akhirnya kami pun sampai juga di wilayah Manggarai, saya cukup hafal daerah sini, karena pamanku juga tinggal disekitar sini. Sampai disebuah rumah, kami pun disambut oleh penghuni rumah tersebut: “Hey… hallo apa kabar…” Selanjutnya kami pun dikenalin satu per satu penghuni rumah tersebut. Maklum… si Ir baru pertama kalinya berkunjung jadi belum tahu mana saja kerabat dekatnya.

Aku dipaksa Ir untuk menginap disitu, padahal aku bilang sama Ir, kalo rumah sodaraku didekat sini juga. Pikirku lebih baek kalo aku menginap dirumah sodaraku, kalo seandainya Ir mau kangen-kangenan bersama sodara-sodaranya. Tetapi Ir tetap memaksaku, mungkin Ir juga masih merasa asing disitu. Tak lama kemudian Ibunya Ir datang lagi kali ini bersama adek kandungnya Ir dan suaminya. Kami dikenalin semuanya dan saling ngobrol-ngobrol. Kulihat adekknya Ir maseh malu-malu untuk menyapa duluan, si Ir pun terlihat kaku dan salah tingkah. Baiklah… aku pun ikut menginap dirumah bibinya Ir. Kemudian hari berikutnya, aku bilang ama bibinya Ir, kalo aku mau tidur ditempat sodaraku. Aku cerita kalo sodaraku tinggal di daerah sini juga, cuman berjarak beberapa ratus meter saja. Bibinya Ir, heran ternyata aku cukup kenal daerah daerah sini. Aku pun ambil ransel dan jalan kaki menuju rumah sodaraku. Sebelum pergi aku pesen sama Ir, besok kalo mau pulang ke Jogja janjian.

Pencet bell dirumah pamanku, mereka pada kaget. Soalnya baru hari itu aku muncul, ternyata ibuku sudah telepon pamanku kalo aku mau maen ke Jakarta, dan pamanku pikir aku kemarin sudah sampai dan mungkin aku kesasar. “Oalaah le… kok ora telepon nek kowe nginep nggone kancamu.” Aku pun bercerita panjang lebar….

Selang beberapa hari si Ir maen ketempat pamanku, karena sebelumnya dia sudah tak kaseh peta rumahnya pamanku. Akhirnya kami sepakat untuk pulang bersama dan tiket sudah dipesenin sama ibunya Ir. Kali ini kami pulang menggunakan kereta bisnis, jauh lebih nyaman. Sepanjang perjalanan Ir cerita, bapak tirinya baek meski dia seorang preman. Ir dikasih uang juga dan beberapa potong baju.

Singkat cerita temenku si Ir yang hobi ngutil ini tidak naik kelas, dan kami hilang kontak dan Ir sendiri hilang dari peredaran gak tau entah dimana rimbanya. Pernah aku maen kerumahnya yang di Jogja, sodaranya bilang, Ir sudah lama pergi, mereka juga gak tau kemana perginya.



|| Sobat…. Aku percaya bahwa semua manusia bisa berubah, meski itu bukan perkara yang mudah. Semoga kita bisa berubah ke arah yang lebih baek. ||







Monday, May 09, 2011

Aktivitas Diluar Norma

SMA Part IV

Aneka Aktivitas Diluar Norma

Semasa SMU sering banget bolos, baik yang full sehari ataupun yang bolos untuk beberapa mata pelajaran tertentu. Bolos upacara bendera juga pernah, ketahuan pula. Seruuu deh…. Pas hari Senin, biasanya upacara bendera, tapi diajakin temenku buat ngopi diwarung. Okey deh… lagian aku lagi suntuk, mau sruuuput kopi ada patroli guru. Digiring deh ketengah lapangan, tapi pak guru tersebut agaknya takut sama temenku yang wajahnya menyeramkan. Hahaha…. Jadi gak disuruh berdiri seperti orang terhukum, tapi langsung masuk barisan sesuai kelasnya masing-masing. Guru BP (Bimbingan Penyuluhan) mungkin udah bosen liat mukaku, karena hampir tiap minggu aku dipanggil dirinya karena tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Lha…. Mau gimana lagi, banyak temen kalo bolos selalu ajak aku. Biasanya… bolos maen bilyard yang berada tidak jauh dari sekolah, kadang main ke pantai, kadang mancing ato cuman ber-ngobrol ria dirumah teman. Pernah suatu ketika, ada temenku SMP nyariin aku dan dia dari sekolahan lain, dia cuman titip pesan sama seseorang cari Yudha anak kelas 1A ditunggu didekat gapura. Wah… ternyata malah salah paham, dikira temen-teman ada musuhku yang menantang duel. Temenku yang lain udah pada siap-siap tempur. Akhirnya kucari temenku… ternyata ngajak bolos untuk service motornya. Yaa udah aku balek ke sekolahan lagi, dan menjelaskan kalo yang mencari aku bukan lawan tapi kawan. Mau ambil tas, sudah jelas gak mungkin karena guru sudah masuk kelas. Akhirnya ambil motor dan bolos lagi deh.

Main judi kartu (sam gong) sudah menjadi kewajiban kalo pelajaran membosankan, taruhannya berkisar, Rp. 50,- sampai Rp. 100,- dimasa itu. Kalo menang yaa buat beli soto di kantin, kalo kalah yaa ngutang. Hahaha….

Ada temenku yang agak aneh, kalo pelajaran beli es teh dan gelasnya dibawa masuk kelas disimpan di laci. Kalo haus…. Sruuput sambil di iming-iming keteman yang lain. Ada guru yang sempat liat, tapi karena dia-nya veteran akhirnya didiemin aja. Beberapa gelas tersimpan dilacinya. Lama kelamaan ada bau pesing, ternyata temenku tadi kencing didalam kelas dan dimasukkan di gelas. Busyeet… bener nih anak. Karena banyak yang complain akhirnya dibuang juga tuh air kencing beserta gelasnya.


Sunday, May 08, 2011

Pengalaman Tertangkap Polisi

SMA Part III

Sebuah Pengalaman Tertangkap Polisi

Sekolah Menengah Umum tempat saya menuntut ilmu, pada masa itu bisa dibilang sekolah negeri yang Rock ‘n Roll. Sering kusaksian perkelahian antar siswa maupun tawuran. Setiap ada perlombaan olah raga seperti: basket, volley atau sepak bola, selalu ada acara gembar gembor motor dan berakhir ricuh. Yaa…. Mungkin itulah euphoria dari anak remaja. Pernah aku ketangkap polisi gara-gara mau nge-drop disekolahan tertentu. Berbondong-bondong para cowok naek motor berboncengan, siap tempur. Ada yang bawa batu, ada yang bawa kayu/bambu, ada juga yang bawa obeng. Sudah mau sampai disekolah sasaran, ternyata telah berjajar polisi. Duooorr…. Tembakan peringatan melayang diudara, semua pada tunggang langgang. Ada yang langsung balik kanan, ada yang pura-pura beli rokok di warung, ada juga yang tertangkap (termasuk saya hahaha). Kemudian ada temen yang sebenarnya gak tertangkap, akhirnya dia malah menghampiri kami, tak banyak basa-basi temenku itu ditangkap juga. Kami dibentak-bentak oleh polisi dan tentara koramil, akhirnya temen saya, mengeluarkan kartu nama bapaknya:”Pak jangan kasar-kasar dong, kalo mau urusan sama Papa saya aja.” Ternyata temen saya yang menangkapkan dirinya tersebut anak dari seorang Kapolda di salah satu wilayah Indonesia. Akhirnya semua di data, ada 13 orang yang tertangkap, ada pula yang anak Jaksa dan anak Polisi. Cihuuui…. Aparat yang menangkap kami, melunak juga. Sudah gak dibentak-bentak lagi, malah ditawarin rokok. Hahaha….. Padahal sebelumnya kami akan dilucuti pakaian dan disuruh lari keliling kecamatan sebagai hukuman. Alaaamak…..

Kami disuruh membuat surat pernyataan, yang intinya gak boleh tawuran lagi selanjutnya dengan pengawalan patroli polisi kami digiring menuju ke sekolahan. Banyak temen yang masih nongkrong disekolahan yang menunggu kami. Setelah ngobrol sana sini dan hari telah larut malam, kami pulang. Sampai rumah seperti biasa… gak cerita sama bapak-ibu lah untuk hal seperti ini. Mungkin…. Pepatah mengatakan, sepandai-pandainya membungkus yang busuk berbau juga. Hari penerimaan raport tiba, aku mengantar ibuku untuk mengambil raport, karena raport mesti diambil orang tua. Setelah antri, tiba saatnya ibuku maju kedepan dan kata guru wali kelas, raportku tidak ada, karena ditahan kepala sekolah. Ibuku langsung menyambar aku, “Kamu ada masalah apa, kok raport ditahan di Kepala Sekolah.” Aku menjawab: ”Hm… mungkin gara-gara tawuran kemarin, ketangkap polisi.” Ibuku panik, dan untuk menenangkan beliau kutunjukkan ruangan Kepala Sekolah. Di ruangan itu sudah ada beberapa orang tua murid. Setelah semuanya lengkap, para orang tua diberikan penjelasan oleh Kepala Sekolah mengenai kelakuan anak-anaknya yang akan melakukan tawuran. Dan disodorkan surat pernyataan dari kepolisian yang nama dan tanda tanganku tertera didalamnya.

[…]



Saturday, May 07, 2011

Romantika Disuka Wanita

SMA Part II

Romantika Disuka Wanita – Sebuah Sadness

Rasanya gak afdol kalo saya gak bercerita tentang perihal ini: sejak kelas 1 dibangku SMU, aku disukai oleh seorang cewek temen sekelas (tanpa menyebut nama -red) tapi aku gak suka sama dia. Hahaha….. sok-sokan banget yah. Okey… cerita ini saya sampaikan sepihak dari sisiku dari kacamataku. Sejak masuk pertama di kelas 1A, aku cepat akrab dengan kawan-kawan baru, ada beberapa teman yang dulunya satu SMP, meski kami dulu beda kelas. Ngobrol kesana kemari, canda ngalor ngidul, tanpa pandang jenis kelamin, strata social, ras dan agama. Mungkin dari sinilah awal mulanya. Salah satu cewek tertarik pada diriku. Di kemudian hari, ada yang bilang: “Yud, dapat salam dari si X” aku gak respon, gak bilang “salam balek” ato apaan. Lowh… lama kelamaan temen satu kelas tahu semuanya, wah kacau neh. Terus ada salah satu temen cewek yang kebetulan dulu satu SMP sama aku, dia bilang ke aku: “Kayaknya si X naksir ma kamu Yud, kemarin si X tanya-tanya tentang kamu, dulu pas SMP kamu ada pacar gak pokoknya gitu deh”. Aku balik Tanya: “Terus kamu bilang apaan sama si X?” Temenku bilang: “Dulu Yudha alim, rajin, gak ada pacar. Yudha baek koq.” Aku pun balas menjawab: “Wah… itu bukan jawaban yang aku inginkan”. Akhirnya temenku satu ini mengatakan: “Udah… beri si X kesempatan.”

Dalam hati: “Busyeeet….. beri kesempatan gimana maksud loh, ketemu sama si X aja aku males.” Puh…. Lama kelamaan jadi amburadul, gak cuman temen sekelas, teman beda kelas dan beberapa kakak kelas pun tahu. Ampyuuuun………….. akhirnya aku mulai jaga jarak, gak mau deket ato ngomong lagi sama si X, takut digosipin yang nggak-nggak.

Aku mati kutu, kalo udah diledekin antara aku dengan si X, dan perihal inilah yang temen-temenku sukai, karena aku gak bisa mengelak, gak bisa melawan cuman terdiam. Dan menurutku si X dengan situasi seperti ini malah semakin menjadi. Pernah aku distop sama si X waktu pulang sekolah, “Yud, aku mau bicara ma kamu.” Kujawab: “Aku gak ada waktu.” sambil mengeloyor pergi menghindar. Cabuuuut….

Kriiiing…. Kriiiing….. telepon rumah berdering, kuangkat: “Halooo…” orang disana sambut : “Halooo…” lhaa… kok suaranya si X, yaa udah aku tutup lagi teleponnya. Pusiiing deh….

Coba bayangkan… selama 3 tahun berturut turut aku berhadapan dengan situasi seperti ini dan 3 tahun pula satu kelas sama si X. Pernah suatu ketika si X ulang tahun, aku gak ingat kapan itu terjadi, karena aku memang gak ingin mengingatnya. Ulang tahun si X dirayakan di kelas, dan perayaan seperti ini jarang jarang terjadi pada teman-teman lain. Biasanya ulang tahun dirayakan dirumah, ato di sebuah tempat tertentu. Dan jika ulang tahun si X dirayakan di kelas pada saat jam pelajaran, Anda tau apa yang terjadi selanjutnya…? Hahaha….. benar sekaleee, sambil menyanyi bersama “Happy Birthday dan Selamat Ulang Tahun” potongan kue pertama kali diberikan kepadaku. Hua…hua…hua…. Temen-temen sekelas bersorak sorai, gaduh di kelas dan mukaku memerah. Bu Guru waktu itu pun, senyam senyum. Wuuiiih…. Rasa malu dan marah campur aduk. Akhirnya potongan kue itu kuangkat dan hendak kulempar ke luar jendela. Akhirnya… ada temenku cewek disebelahku, “Yudha… jangan seperti itu, hargai perasaan cewek.” Potongan kue itupun tak tinggalin di atas meja, tidak kusentuh lagi apalagi memakannya. Tapi ada temenku cowok yang mau memakannya. Aku pun minta ijin sama Bu Guru untuk keluar, aku pergi ke kantin dan gak mau masuk kelas sampai mata pelajaran Bu Guru tersebut berganti. Ada temenku nyusul ke kantin, dan menyuruh aku masuk kelas lagi, karena Bu Guru mencariku. Waks…. Aku tetep gak mau masuk kelas dan terjebak dalam situasi seperti itu lagi. Hari itu dan beberapa hari kedepannya…. Peristiwa tersebut menjadi topic hangat disekolahan. Seandainya pas di hari tersebut aku bisa mengetahui apa yang akan terjadi, tentu aku kan membolos.

Hm… aku berpikir gimana caranya biar si X tidak suka ma aku lagi dan gak over action. Jalan pikiranku menelorkan ide, aku mesti cari cewek lain. Tetapi…. Itu tidak semulus bayanganku. Hahaha…. Beberapa cewek yang kudekati ternyata sudah melegitimasi diriku ada hubungan dengan si X dan tidak ingin merusak hubunganku itu. Oh… F*CK, what the h*ll is this… Yaa udah, aku coba dekati cewek adek kelas aja. Kalo pas istirahat sering ketemu ama adek kelas…. Sering ngobrol-ngobrol, malemnya ku telepon. Selang beberapa hari… dianya bilang, “Mas aku tadi pas istirahat ketemu sama mbak X, dia sinis banget sama aku.” Wakakaka….. capee deh.

Suatu hari…. Ada acara mata pelajaran agama, yang satu agama dari kelas 1, 2, 3 dikumpulin. Aku dan si X satu agama dan ada seorang pembicara dari luar. Ngomong bla…bla…bla… aku gak inget, soalnya aku males acara ginian. Trus ditengah acara si pembicara, bilang: “Berikan sebuah benda disekeliling anda yang menurut anda berharga kepada orang yang anda kasihi.” Ada temen yang memberikan pensil kepada temen yang lain, ada yang berikan buku buat Bu Guru. Pass…. Giliran si X, memberikan Kitab Suci buat aku. Hohoho….. semuanya jadi ketawa semua, mau ditaruh kemana nih mukaku. Sumpret…. Semua orang jadi tahu dari kelas 1, 2, 3. Ough….. semoga acara ini segera berakhir. Itulah doaku.

Hwaduuuh…. Gimana seh, koq si X ini sepertinya gak paham bahasa penolakanku, kalo aku tuh gak demen ama si X, sampai-sampai mau ngomong aja aku males. Huh… aku mesti menggunakan bahasa semiotic gimana lagi?

Situasi seperti ini kualami selama 3 tahun…. Terus ada temen cewek, minta maaf ke aku. “Yud, aku mau minta maaf, aku dulu sempat kompor-komporin si X ke kamu. Tapi ternyata keadaanya seperti ini, aku paham perasaanmu, kalo kamu gak suka ama si X. Aku merasa bersalah.” Kujawab: “Permohonan maaf dikabulkan.”



|| Singkat cerita, aku mendapat info kalo si X sekarang udah menikah. Amien. ||





Friday, May 06, 2011

Super Ego Masa Puber

SMA Part I

Super Ego Masa Puber

Dari SMP N 2 Yogyakarta yang berlokasi di jantung kota Jogjakarta, kembali ke selatan dan terdampar di Sekolah Menengah Umum Negeri Tirtonirmolo yang sekarang dikenal dengan SMU Negeri 1 Kasihan (karena berada di Kecamatan Kasihan). Sebuah SMU negeri yang terletak dipinggiran kota Jogja yang secara tata negara masuk ke dalam pemerintahan Kabupaten Bantul. Akhirnya…. Masuk ke sekolah negeri juga, untuk mengejar biaya murah (harapan orang tua –red).

Tahun ajaran 1994 saya menemukan wajah-wajah baru, suasana baru, guru baru dengan seragam warna putih abu-abu. Saatnya sekarang memakai celana panjang. Seragam yang beda cuman hari Jum’at yaitu berwarna coklat cream. Beberapa sobat lama dari SMP, kembali bersama di SMU ini. Pertama kali dijebloskan pada kelas 1A dan sebagai salah satu korban orde baru maka diharuskan mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang diselenggarakan 18 – 23 Juli 1994. Pengin tahu hasilnya…. BAIK. Nomor perserta ketika mengikuti penataran P4 yaitu: 3444/1A, disertai dengan dikeluarkannya Surat Keterangan bernomor: 090/I13.2/SMA.04/0/1994 tertanggal 23 Juli 1994.

Lokasi sekolah tidak begitu jauh dari rumah. Pertama-tama ke sekolah jalan kaki, kadang nebeng temen-temen yang punya motor. Di masa SMU paling banyak siswa mengendarai motor ada juga yang naek dosing (mobil –red), ada yang naek sepeda dan ada pula yang jalan kaki (termasuk saya). Jiwa pemberontak saya muncul dan minta dibelikan sepeda motor. Dengan dalih banyak aktivitas yang lebih mudah dikerjakan dengan mengendari sepeda motor. Sebenarnya kondisi ekonomi keluarga blum mampu untuk membeli motor baru. Saya sempat marah terhadap orang tua, karena belum juga dibelikan motor, akhirnya tembok kamar aku corat coret, merokok di kamar, bolos sekolah. Alhasil….. permintaan saya dikabulkan, dengan ketidakberdayaan keuangan akhirnya orang tua membelikan motor dengan leasing (kredit). Motor merk Suzuki RC 100 bernopol AB 3313 AS kukuasai dan menemani kemana aku pergi.



|| Bu, Pak… makasih telah membelikan sepeda motor demi aku, demi super egoku. ||


Thursday, May 05, 2011

Merajut Peristiwa Semasa SMP

SMP Part II

Merajut Peristiwa Semasa SMP

Masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) diawali dengan Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) selama 6 hari berturut-turut non stop. Hasilnya baik ditandai dengan Surat Keterangan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bernomor: 315/I.13.1/SMP.02/0/91 tertanggal 20 Juli 1991. Tapi apakah hanya dengan selembar kertas ini mampu menujukkan seseorang mengamalkan nilai-nilai Pancasila? Aparat pemerintah pun telah ditatar P4, dan hasilnya tertulis BAIK. Trus apakah sudah beramal dan membela rakyat jelata? (semua jawaban anda benar –red)

Selama 6 tahun kemarin di masa Sekolah Dasar menggunakan seragam putih merah, sekarang saatnya ganti warna menjadi putih biru dengan dasi silang di leher. Dengan mengendarai sepeda kurang lebih 15 menit sampailah digedung SMP 2 Yogyakarta untuk menuntut ilmu menuju masa depan. Ruang kelas yang lebih gede serta durasi jam pelajaran yang lebih lama itulah yang kurasakan saat-saat pertama. Wuiih… ada juga yang dinamakan jam ke NOL, yang dimulai jam 6:15 untuk mata pelajaran Olah Raga. Berhubung sekolah kami, tidak memiliki lapangan, jika jadual pelajaran Olah Raga kita mesti ke alun-alun utara Jogja, depan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Ektra kurikuler Pramuka hukumnya wajib diikuti.

Setahun sudah berlalu dari kelas 1D, naek kelas dan diacak ke kelas 2E. Temennya ganti dan tambah lagi…. Tapi saat berita ini diturunkan sudah tidak mampu mengingat nama-nama beserta wajah mereka. Hanya beberapa gelintir aja yang nyantol di otak. Di grade ini, mulai pake kaca mata, soalnya kalo pas duduk dibelakang udah gak keliatan bu guru nulis apaan di papan, pake baju apaan.

Masa-masa kelas 2 SMP sudah jarang naik sepeda, kebanyakan naik bus. Pernah beberapa kali, telat gara-gara bus terlalu sering berhenti (mondak mandek –red), gerbang sekolah pun telah ditutup. Akhirnya, main-main dulu sejenak di lingkungan bioskop Senopati dan Yogya (sekarang telah menjadi Taman Pintar). Setelah jam pelajaran berganti dan memantau guru keluar kelas, trusss… tancap langsung masuk ke kelas. Aman deh. Wakaka…. disorakin ama temen-temen soalnya telatnya kebangetan. Mau gimana lagi, kalo telat 5 – 15 menit mesti bertele-tele, sekalian aja ditelatin 2 jam mata pelajaran.

Penerimaan raport kenaikan kelas tiba, akhirnya…. naik ke kelas 3. YES…. di kelas 3, kumpul lagi sama kawan-kawan lama yang dulu dari kelas 1D, dan menduduki ruang kelas 3D alias Renegade. Itulah slogan kelas semasa itu…. Lupa deh kependekan dari apa Renegade itu, kalo gak salah Remaja Nekad Tiga Dhe (gak inget pasti –red). Di kelas 3 pernah pake sepatu warna coklat, ketahuan bu guru…. Wedew, sepatu ditahan di ruang guru, dan sehari itu gak pake sepatu sampai bel selesai sekolah dibunyikan. Hehe… jadi pas istirahat malu untuk keluar kelas, abisnya gak pake sepatu. Apes….

Pernah ada kejadian jam pelajaran kosong, nothing to do, akhirnya… bersama beberapa temen main gaple (kartu domino -red) tapi tanpa taruhan uang. Siapa yang kalah ‘lojon’ alias ngocok sambil ndodok (jongkok -red). Eeenak tenan… lagi sik asyik main ada pak guru…. Akhirnya kami digiring ke ruang guru. Bla…bla…bla…. Intinya gak boleh main kartu lagi.

Kelas 3 SMP tindik kuping sebelah kiri, pengen aja seh waktu itu. Cethut…. Itulah kira-kira bunyinya ketika ujung jarum menusuk cuping bagian kiri. Trus ambil kapas yang dibasahi alcohol, biar gak bengkak. Kalo berangkat sekolah, ditutupi pake plester untuk kamuflase. Ada juga…. mata bu guru yang awas dan melihatnya trus disuruh lepasin tuh jarum pentul yang menempel di kuping. Berhubung tindik baru, kalo dilepas kadang alur lobangnya hilang, akhirnya….. Cethut lagi. Puh… akhirnya terbentuk juga tuh tindik.

Masa ini juga merupakan masa akil balik…. Mulai tertarik lawan jenis, berhubung diriku lelaki tulen maka lawan jenisnya pun wanita tulen juga. Bukan wanita jadi jadian. Hihihi…. Geli kalo inget masa ini. Bayangkan….. belum ada handphone, blum ada email…. medianya cuma surat suratan. Itu pun udah bikin jantung berdegup bahagia banget.

Selama SMP mempunyai nickname ‘KAWUL’ karena rambutku dulu acak-acakan, awul-awulan. Hehehe…. Kawul sebenarnya dari bahasa Jawa yang merupakan serabut dari kayu yang dipasak dan bentuknya melengkung. Saat SMP nama yang biasa digunakan yaitu nama depan. Jadi tidak jarang yang panggil diriku Cahyo Kawul. Yaa…. Itulah masa SMP.

Hari kelulusan pun hadir, akhirnya selama 3 tahun LULUS yang dibuktikan dengan Surat Tanda Tamat Belajar bernomor: 13 OA ob 0694888 tertanggal 30 Mei 1994.

[…]


Wednesday, May 04, 2011

Awal Putih Biru

SMP Part I

Awal Putih Biru – (edisi revisi)

Yaa itulah warna seragam ketika duduk dibangku S.M.P (Sekolah Menengah Pertama). Sebelum masuk di era putih biru terdapat masa transisi….

Setelah kelulusan SD dan sebelum masuk SMP saya di sunat (itu tuh… ujungnya Mr. P dipenggal sedikit) Nah… pada saat sunatan ini, biasaya diadakan hajatan. Hasil uang sumbangan dari hajat sunatan inilah saya gunakan untuk membeli sepeda baru berjenis Federal.

Untuk melanjutkan studi di jenjang SMP, kita harus memiliki NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang cukup untuk mendaftar di sekolah yang kita inginkan. Setiap sekolah akan menerima siswa baru, berdasarkan ranking NEM dan daya tampung yang dimiliki. Jika NEM kita mencukupi maka kita bisa masuk di SMP tersebut, jika NEM tidak mencukupi ada 2 kemungkinan yaitu bisa dilempar ke SMP lain dalam satu rayon atau bisa juga tidak diterima di SMP tersebut. Dan kita mesti mencari sekolahan lain (sekolah swasta) yang pendaftarannya biasanya lebih lama dibanding dengan sekolah negeri. Semua sekolah negeri waktu pendaftarannya adalah sama, jadi kita tidak bisa melakukan pendafataran di sekolah negeri lebih dari 1 sekolahan, karena salah satu syaratnya kita mesti menyertakan NEM aseli. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai membaca situasi dalam melakukan pendaftaran. Yaa begitulah kurang lebihnya. NEM saya lulus SD yaitu 40,28 yang terdiri dari 5 mata pelajaran.

Yang mesti kita lakukan pertama kali yaitu membeli formulir pendaftaran. Pada hari itu, saya bersama 2 teman (Ferry dan Riko) dengan bersepeda mengunjungi beberapa SMP untuk membeli formulir pendaftaran. Tentunya saya menaiki sepeda Federal baru, Saya hanya diberi uang oleh Ibu, kemudian saya jalan sendiri (tanpa diantar orang tua) merapat untuk beli formulir. Waktu itu kami bertiga udah janjian untuk bareng-bareng bersepeda. Saat-saat itu ibu saya sibuk menjahit, sedangkan ibunya si Ferry sibuk jualan gudeg. Si Riko pengen gabung dengan kami.

Kami bertiga mempunyai NEM yang berbeda, dan SMP yang kami inginkan berbeda pula. Berdasar informasi di Koran mengenai NEM terendah tahun lalu di beberapa SMP Negeri kami pun berangkat. Saya tidak ingat berapa sekolahan yang saya kunjungi hari itu, pokoknya saya beli 2 formulir di rayon yang berbeda. Setelah beli formulir kami pulang dan tidak mengumpul formulir pada hari tersebut, karena kami harus melengkapi persyaratan. Sampai rumah yang bilang ke Ibu kalau saya beli 2 formulir di rayon yang berbeda. Pesan ibu: “Kalo bisa kamu diterima di SMP Negeri yang bayarnya murah.” Pada masa itu ekonomi kami pas-pasan dan jika dibandingkan biaya pendidikan SMP Negeri jauh lebih murah dengan SMP Swasta.

Pada masa-masa inilah saya dilatih oleh orang tua untuk berani ambil keputusan. Saya harus mampu memilih SMP mana yang kira-kira bisa menerima saya dan sesuai dengan kemampuan financial orang tua. Hari berikutnya saya mengumpulkan formulir (sendirian naik sepeda) di SMP Negeri 2 Yogyakarta Jalan P. Senopati yang berlokasi dibelakang taman kota (taman kota tersebut sekarang sudah tiada). Teman-teman saya masih menunggu hari terakhir, karena masih memantau perkembangan daftar NEM terendah di beberapa sekolahan.

Hari pengumuman pun tiba… akhirnya saya diterima menjadi siswa SMP Negeri 2 Yogyakarta dengan nomor indruk 11900. Pengalaman baru pun dimulai, dapat teman baru yang lebih banyak, karena tiap kelas berisi 40 siswa dan ada 6 kelas pararel. Saya masuk di kelas 1D, ada juga beberapa teman di SD yang juga masuk di SMP Negeri 2 Yogyakarta tapi kami berbeda kelas.



[…]


Tuesday, May 03, 2011

Lulus SD

Tahap Sekolah Dasar – Part VI – Lulus SD



Tahap Sekolah Dasar saya tempuh selama 6 tahun dari 1985 – 1991. Setelah menjalani beberapa ujian, akhirnya saya lulus dengan selamat.



Apa yang terjadi selanjutnya....??? Silakan pantau terus malaekat.com


Monday, May 02, 2011

Diambang Ajal

Tahap Sekolah Dasar – Part V – Diambang Ajal

Ada pengalaman yang rasanya gak pernah saya lupa. Saya pernah nyaris mati tenggelam sewaktu saya masih SD. Saat itu kami lagi seneng-senengnya renang, dengan biaya Rp. 100,- bisa nyemplung di kolam selama 1 jam dengan kedalaman 1 meter yang fasilitasnya jauh diluar standard swimming pool. Apesnya bisa kena panu, kutu air atau kadas. Bisa sewa ban, kalo tidak salah Rp 50,-. Senangnya pada masa itu bareng-bareng habis pulang sekolah naik sepeda, cari tebu di Madukismo, terus sorenya renang. Ada beberapa tempat kolam renang di sekitar pemukiman kami. Ada juga sebuah hotel di dekat rumah, yang menyediakan kolam renangnya untuk umum. Tarif renang di hotel tersebut sedikit lebih mahal, pada saat itu biayanya Rp 350,- sepuasnya tanpa batasan waktu. Suatu hari, saya dan juga 2 teman ingin berenang di hotel tersebut (salah satunya sohib saya si Albert). Tapi pada akhirnya ke dua teman saya tidak jadi berenang. Yaa udah akhirnya saya sendiri yang berenang, kedua teman saya hanya duduk-duduk dipinggir kolam. Pertama saya hanya mainan air di kolam yang kedalaman 50 cm. Saat itu ada juga 1 orang anak laki-laki yang juga berenang dan saya tidak mengenalnya. Dia sudah jago berenang, dan main main di kedalaman yang 1,5 meter. Seukuran anak SD kedalaman 1,5 meter sudah cukup untuk membenamkan seluruh anggota tubuh. Anak laki-laki tersebut ditungguin oleh ayahnya, yang duduk mengawasinya dipinggir kolam.

Saya tidak bisa berenang, tetapi saya ingin main plorotan yang berada di kedalaman 1,5 meter. Akhirnya saya nekad bermain plorotan, dengan dibantu si Albert yang selalu melemparkan ban tepat di bawah plorotan, supaya saya bisa meraihnya. Satu…. Dua… kali saya berhasil meraih ban itu dengan sukses. Bermodal nekad dan keinginan belajar renang, akhirnya lemparan ban semakin dijauhkan dari plorotan. Dan… akhirnya saya tidak bisa meraih ban tersebut. Saya sudah minum banyak air, saya teringat anak laki-laki yang tidak saya kenal tadi membantu saya menarik ke pinggir kolam tetapi tidak kuat. Saya mencoba berteriak minta tolong, tapi setiap kali saya buka mulut, air masuk sampai ke tenggorakan. Saya sudah diambang ajal dan merasakan gelap, tidak bisa melihat apa apa lagi. Tiba-tiba saya digendong oleh bapak dari si anak laki-laki yang berenang di kolam tersebut. Bapak itu tadinya duduk-duduk dipinggir kolam dan menyelamatkan saya yang masih berpakain lengkap. Dan saya direbahkan dipinggir kolam, tubuh saya lunglai, lemas dan sesekali masih tersedak oleh air. Bapak itu terus berkata: “Mas, besok lagi kalo belum bisa berenang hati-hati, harus ada yang mengawasi.” Memang kolam renang di hotel tersebut disewakan untuk umum tapi tanpa pengawas, Si Albert menceritakan kepada saya: “Dari atas kolam, kamu cuman kelihatan rambutmu tergerai dan terapung apung di kolam.” Kemudian saya bilang terima kasih kepada bapak itu dan kami bertiga pulang ke rumah. Pada saat saya tenggelam, saya membawa sebuah kalung pinjaman dari teman sekelas, dan kalung itu hilang. Pagi harinya ketika sekolah, saya kaget karena berita saya tenggelam sudah diketahui oleh teman teman sekelas, si Albert dan temen saya yang ikut menyaksikan saya tenggelam telah bercerita kepada teman teman. Kemudian saya cari teman yang kalungnya saya pinjam, terus saya bilang, kalo kalungnya hilang sewaktu saya tenggelam, dia bilang: “Ya udah gak pa pa”



|| Makaseh wahai Sang Kausa Prima…. Engkau masih memberikan kesempatan dan kepercayaan saya untuk hidup yang lebih lama di bumi ini. ||


Sunday, May 01, 2011

Hasutan Duel

Tahap Sekolah Dasar – Part IV - Hasutan Duel

Albert Yudho sohib saya ini, ternyata mempunyai sifat provokator dan saya pernah sekali terhasut oleh omongannya. Suatu hari dia bilang: “Yudha, kamu ditantang sama si XXX, nanti pulang sekolah ditungguin di depan gerbang. Kamu berani gak?” (tentunya pake boso jowo ngoko). Saya jawab: “Berani saja, aku gak takut sama si XXX.”

Bel tanda akhir pelajaran berbunyi. Saya dan si Albert ini bergegas ke depan pintu gerbang sekolah nungguin si XXX, karena si XXX beda kelas dengan kami. Tak lama si XXX muncul, dan tanpa basa basi si Albert langsung pegangin sepeda si XXX, kemudian aku berduel ala anak SD tepat di depan pintu gerbang sekolah. Pukul sana pukul sini, tendang tak beraturan begitulah kira-kira. Tapi duel tersebut tidak berlangsung lama, karena kami diteriaki oleh ibu-ibu yang pada jemput sekolah dan katanya akan dilaporkan ke pak/bu Guru. Saya dan si Albert lari ambil langkah seribu, kami pun takut akan teriakan ibu-ibu tadi, kami gak berani langsung pulang ke rumah. Setelah sore, barulah kami pulang ke rumah masing-masing.

Setelah sekian lama, baru saya sadari ternyata si XXX nggak menantang saya. Itu hanyalah akal-akalan si Albert, sang provokator. Kalo si XXX benar menantang saya, mengapa tantangan tersebut mesti disampaikan kepada si Albert terlebih dahulu.? Ck..ck… dulu waktu SD, saya belum bisa berpikir liar. Hehehe… namanya juga masih anak bau kencur. Sekarang setelah semuanya pada gede, kalo ketemu sama si Albert bahas masalah berantem sama si XXX, jadi geli sendiri.

[…]