Masa Kanak Kanak Malaekat - (edisi revisi)
Tidak banyak yang saya ingat mengenai masa Taman Kanak Kanak (TK). Yaa… harap maklum daya ingat saya terbatas, bukan berarti saya lupa ingatan.
Mengenyam pendidikan formal pertama kali di Taman Kanak Kanak Indriya Sana Pugeran. Tahun pertama biasanya disebut NOL Kecil dan tahun kedua disebut NOL Besar. Saya mengalami semuanya baik nol kecil maupun nol besar. Lokasi TK Indriya Sana Pugeran di Jalan Suryaden dan berada satu kawasan dengan Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran. Letak TK tidak terlalu jauh dari rumah, jadi kalo berangkat dan pulang jalan kaki. Kalo berangkat sekolah diantar kalo gak ibu yaa bapak, kadang minta ditungguin.
Berdasar sisa-sisa ingatan pada masa itu, seragamnya untuk hari Senin dan Selasa berwarna putih dan merah. Untuk hari Rabu dan Kamis seragam berwarna putih dipadukan rompi warna biru dan topi biru. Sedangkan hari Jum’at dan Sabtu tidak bersergam tapi wajib berpakaian. Dilarang telanjang.
Kalo pas istirahat seneng kumpulin biji sawo kecik dan diadu kekuatannya dengan cara diinjak. Kadang minta bantuan Pak Bancak (in memoriam) dalam mencari biji sawo. Pak Bancak merupakan seorang pengurus kebun di gereja yang juga tinggal areal gereja. Perawakannya tinggi, mempunyai jenggot, badannya langsing tapi kekar dan berotot. Dia ini sebatang kara, isunya dahulu Pak Bancak merupakan exs tapol (Tahanan Politik) sewaktu rezim Orde Baru. Sewaktu saya bekerja di Kapal dikabari oleh Ibunda kalo Pak Bancak meninggal karena tabrakan.
|| Semoga Pak Bancak sudah tenang di alamnya, dibebaskan dari api pencuci, diampuni semua dosa dan kesalahannya serta segala amal baik Pak Bancak diterima oleh Sang Kausa Prima ||
Dulu…. Sewaktu saya masih kuliah saya sering ngobrol sama Pak Bancak, yang membuat saya terkagum karena pengetahuan dan pola pikirnya tidak kalah dengan seorang sarjana. Tiap pagi selalu baca Koran dan sangat tertarik pada bidang sains dan seni. Batu-batu di area Gereja, di respon oleh beliau menjadi patung wajah dengan beragam ukuran dan warna. Cukup banyak… hasil karyanya. Pernah suatu ketika saya lewat didepan kamar Pak Bancak, pintunya terbuka dan sepintas saya menyaksikan banyak sekali tumpukan buku, beraneka macam. Tapi saya tidak berani melangkah lebih jauh, takut mengganggu privasi-nya. Ruangannya jadi terkesan sempit karena banyaknya buku yang menjadi temannya. Tidak heran apabila ngobrol sama beliau, pasti nyambung, up to date dan yang jelas gak ngebosenin. Yaa… itulah sosok Pak Bancak, pasti banyak orang yang mengenalnya, mengenangnya, pribadi yang sederhana, ramah, low profile dan anti kemapanan.
[…]
0 comments:
Post a Comment